LAMONGAN — Komitmen menjaga warisan perjuangan Sunan Drajat kembali ditegaskan dalam acara Penutupan Pengenalan Lingkungan Pesantren (PLP) dan Pertemuan Wali Santri Baru Yayasan Pondok Pesantren Sunan Drajat, Selasa malam (18/8/2026). Ketua Yayasan Pondok Pesantren Sunan Drajat, Gus H. Murobbi Binnur, S.H., menegaskan pentingnya menjaga identitas dan sistem pendidikan pesantren sebagai bagian dari warisan Wali Songo.

Dalam sambutannya, Gus Murobbi menyampaikan bahwa perjalanan pendidikan selama 40 hari yang dijalani santri baru bukanlah akhir, melainkan awal dari proses tirakatan yang lebih panjang. Ia menjelaskan bahwa angka 40 memiliki kedudukan penting dalam sejumlah kisah perjalanan spiritual para nabi dan juga memiliki makna psikologis dalam proses perubahan manusia.
Menurutnya, Pondok Pesantren Sunan Drajat memiliki keistimewaan sebagai salah satu pesantren yang masih mempertahankan warisan sistem pendidikan dan tradisi yang bersumber dari Sunan Drajat. Karena itu, keberadaan pesantren tidak hanya dipandang sebagai tempat menuntut ilmu, tetapi juga sebagai ruang untuk meneruskan nilai-nilai perjuangan dan dakwah Sunan Drajat.
Gus Obi juga mengingatkan bahwa perkembangan zaman tidak boleh membuat pesantren kehilangan jati dirinya. Justru, nilai-nilai pesantren harus menjadi fondasi dalam menghadapi perubahan zaman. Pendidikan yang diberikan di PP. Sunan Drajat diarahkan agar santri memiliki karakter kuat, mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, serta tetap memegang teguh nilai-nilai keislaman dan kepesantrenan.
Momentum penutupan PLP menjadi penegasan bahwa PP. Sunan Drajat terus berupaya mengembangkan pendidikan pesantren yang relevan dengan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi. Para santri baru diharapkan tumbuh menjadi generasi yang mampu membawa nilai-nilai Sunan Drajat dalam kehidupan masyarakat luas.




