LAMONGAN — Berangkat dari lingkungan pesantren, para alumni Pondok Pesantren Sunan Drajat menunjukkan bahwa cita-cita melanjutkan pendidikan ke berbagai penjuru dunia bukanlah sesuatu yang mustahil. Kisah tersebut dibagikan dalam kegiatan Sharing Moment Alumni: “Unlock Your Scholarship Journey” yang berlangsung di Hall Sunan Drajat, Ahad (4/10/2026).
Mengusung tema “Kiat Meraih Beasiswa S1–S2–S3 ke Luar Negeri: Dream It, Prepare It, Achieve It”, kegiatan ini menghadirkan sejumlah alumni yang memiliki pengalaman akademik di berbagai negara, mulai dari Arab Saudi, Mesir, Korea Selatan, Swedia hingga Inggris.

Salah satu kisah datang dari Ustadz Ahmad Zulkifli Rif’at, alumni Pondok Pesantren Sunan Drajat tahun 2013. Ia merupakan lulusan Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, dan pernah menjadi Koordinator Gerakan Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia Kawasan Timur Tengah-Afrika.
Di hadapan para santri, Rif’at menceritakan bahwa perjalanannya ke Madinah berawal dari sebuah mimpi sederhana: bagaimana caranya bisa belajar di Masjid Nabawi.
“Saya dulu bermula pingin bagaimana caranya bisa ngaji di Masjid Nabawi,” tuturnya.
Menurutnya, mimpi menjadi titik awal yang kemudian harus diikuti dengan ikhtiar. Ia mengaku ketika dahulu memiliki keinginan melanjutkan studi ke Madinah, belum banyak alumni Sunan Drajat yang menjadi rujukan. Setelah menyelesaikan hafalan 30 juz di Sunan Drajat, ia kemudian melanjutkan perjalanan pendidikannya ke Jakarta sebelum akhirnya mendapat kesempatan belajar di Madinah.

Pengalaman serupa juga dibagikan Ustadzah Rahma Milladunna ‘Ilma, Lc., alumni Pondok Pesantren Sunan Drajat yang saat ini menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, pada Fakultas Ushuluddin bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Ia memberikan gambaran mengenai proses menempuh pendidikan di luar negeri, termasuk berbagai hal yang perlu dipersiapkan sejak masih berada di pesantren.
Ada pula Ulfatin Khoiriyah Achmad, santri putri asal Jawa Timur yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo, jurusan Syariah Islamiyah. Selain pengalaman akademik, Ulfatin memiliki sejumlah capaian di bidang Al-Qur’an, antara lain sanad tajwid, tahsin, tahfiz 30 juz, serta sanad kitab tajwid yang diperolehnya di Mesir.
Dari kawasan Asia Timur, terdapat Bella Naufal Wafa Nabila Aliyas yang sedang menempuh program magister Radiation Convergence Engineering di Yonsei University, Korea Selatan. Ia juga tercatat sebagai penerima Global Korea Scholarship (GKS) dari Pemerintah Korea Selatan. Selain menjalani studi, Bella aktif melakukan penelitian di bidang deep learning dan medical imaging.
Sementara itu, Guruh Sukmo, alumni MA Ma’arif 07 Sunan Drajat, kini menempuh Master of Production Engineering and Management di KTH Royal Institute of Technology, Swedia. Ia memiliki latar belakang pendidikan teknik industri dan pengalaman di bidang manufaktur, analisis data, kecerdasan buatan, serta smart manufacturing.
Kisah lain datang dari Nurul Alfiah Kurniawati, alumni Sunan Drajat yang saat ini menempuh program PhD Islamic and Middle Eastern Studies di University of Edinburgh, Inggris. Sebelumnya, ia juga menyelesaikan program magister di universitas yang sama dengan dukungan beasiswa LPDP.
Beragam perjalanan tersebut memperlihatkan satu benang merah: pendidikan pesantren dapat menjadi titik awal bagi santri untuk melangkah jauh. Para alumni tidak hanya membawa bekal akademik, tetapi juga pengalaman kepesantrenan yang menjadi bagian dari identitas mereka di tengah lingkungan pendidikan internasional.
Kisah para alumni tersebut diharapkan menjadi pemantik keberanian bagi santri Sunan Drajat untuk mulai menyusun mimpi, mempersiapkan kemampuan, dan mencari peluang pendidikan terbaik. Sebab, sebagaimana pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, perjalanan menuju dunia yang lebih luas dapat dimulai dari satu hal sederhana: berani memiliki mimpi, kemudian mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh.




