LAMONGAN — Sebanyak 40 hari perjalanan Pengenalan Lingkungan Pesantren (PLP) Yayasan Pondok Pesantren Sunan Drajat Tahun Pelajaran 2026–2027 resmi ditutup pada Selasa malam (18/8/2026). Dari ribuan santri baru yang mengikuti program tersebut, hanya 12 santri yang dinyatakan tidak krasan dan tidak melanjutkan kehidupan pesantren.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Kependidikan dan Kesantrian YPPSD, Ustadz Suyono, M.Pd., dalam acara Penutupan PLP dan Pertemuan Wali Santri Baru yang berlangsung di Halaman MTs Sunan Drajat. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang patut disyukuri karena sebagian besar santri baru mampu melewati masa pengenalan dan adaptasi kehidupan pesantren dengan baik.
“Alhamdulillah selama 40 hari kegiatan PLP santri sudah melewatinya,” ungkapnya. Ia menjelaskan bahwa dari ribuan santri baru yang mengikuti PLP, hanya terdapat 12 santri yang tidak krasan. Kondisi tersebut bukan semata-mata disebabkan ketidakmampuan beradaptasi dengan pesantren, tetapi berdasarkan hasil monitoring terdapat faktor keluarga yang turut memengaruhi.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa proses PLP bukan sekadar kegiatan pengenalan lingkungan, melainkan menjadi tahap awal pembentukan mental dan karakter santri. Selama 40 hari, santri diperkenalkan dengan berbagai aktivitas, tata tertib, lingkungan pendidikan, kehidupan asrama, hingga kultur pesantren yang menjadi bagian penting dari keseharian di PP. Sunan Drajat.
Ustadz Suyono juga mengajak wali santri untuk terus mendukung proses pendidikan anak-anak mereka. Menurutnya, keberhasilan pendidikan pesantren tidak hanya bergantung pada santri dan pengurus, tetapi juga membutuhkan doa, keikhlasan, serta dukungan keluarga. Dengan sinergi tersebut, masa 40 hari PLP diharapkan menjadi pijakan awal bagi santri untuk menjalani perjalanan pendidikan yang lebih panjang di PP. Sunan Drajat.




