Lamongan – Sosok Dr. H. Annas Al Hifni, yang akrab disapa Gus Anas, semakin dikenal publik sebagai salah satu figur muda visioner dalam bidang ekonomi pesantren. Lahir di Pontianak dan besar dalam tradisi pesantren, Gus Anas telah mengukir prestasi nasional sejak usia muda, khususnya sebagai qori bertalenta yang meraih puluhan penghargaan tingkat nasional di bidang tilawah Al-Qur’an.
Namun kiprah Gus Anas tak berhenti di dunia dakwah dan seni baca Al-Qur’an. Ia kini menjadi tokoh ekonomi muda potensial Jawa Timur, yang memberi warna baru bagi pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren. Di bawah naungan Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, Gus Anas membuktikan bahwa pesantren bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang mandiri, modern, dan nasionalis.
Melalui gerakan ekonomi yang ia bangun, Gus Anas telah mendirikan lebih dari 65 unit usaha strategis, yang tersebar dalam berbagai sektor. Mulai dari ritel, Teknologi, kuliner, BMT hingga industri kreatif, semuanya bergerak dalam ekosistem ekonomi pesantren berbasis spiritualitas dan kemandirian. Salah satu langkah monumental yang ia inisiasi adalah peluncuran brand koperasi “Merah Putih”, yang bukan hanya menjadi ikon ekonomi lokal, tapi juga mulai menembus kolaborasi nasional.

Yang lebih mengesankan, Toserba Sunan Drajat telah menjalin kerja sama strategis dengan sejumlah kementerian Koperasi dalam mengembangkan Koperasi Merah Putih ( KMP) yang digagas oleh Bapak presiden RI dalm rangka menumbuhkan ekonomi kreatif desa sebagai lumbung pangan, terutama dalam program-program pemberdayaan masyarakat berbasis UMKM dan pesantren. Hal ini menunjukkan bahwa kiprah Gus Anas bukan hanya mengakar di tingkat lokal, tetapi juga mulai diakui secara nasional sebagai figur transformatif dalam membangun ekonomi kerakyatan berbasis nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Kepiawaian Gus Anas dalam memadukan nilai-nilai Qur’ani, jiwa entrepreneur, serta semangat nasionalisme menjadikannya sebagai sosok inspiratif bagi generasi muda pesantren. Tak berlebihan bila banyak pihak menyebutnya sebagai “maestro ekonomi pesantren Indonesia”, yang mampu menumbuhkan harapan baru bagi Indonesia melalui jalur pendidikan, spiritualitas, ekonomi berkeadilan dan kesejahteraan.
(Najih)




