Dalam suasana hangat dan penuh semangat kebersamaan pada pembukaan Program Pengenalan Lingkungan Pesantren (PLP) Pondok Pesantren Sunan Drajat, Dr. H. Anas Al-Hifni, atau Gus Anas, Direktur Perekonomian juga Koordinator Ekonomi pesantren Jawa Timur mewakili keluarga ndalem, menyampaikan sambutan yang memotivasi seluruh santri baru. Dalam pesannya, Gus Anas menegaskan bahwa menjadi santri di Sunan Drajat adalah sebuah kebanggaan besar, bukan pilihan biasa.
“Kalian harus bangga mondok di Sunan Drajat. Di sini tidak hanya belajar ilmu agama, tapi kalian mendapat fasilitas pendidikan dari dasar hingga perguruan tinggi, dari kepesantrenan hingga pendidikan formal. Semuanya terintegrasi dalam satu sistem yang luar biasa,” ujar beliau.

Gus Anas juga menekankan bahwa santri Sunan Drajat bukan hanya disiapkan untuk menjadi ulama, tetapi juga entrepreneur dan pemimpin masa depan. “Kami ingin kalian jadi orang besar. Pulang bisa jadi kiai, bisa jadi pengusaha sukses, bisa jadi pebisnis dengan banyak rezeki. Kita sudah punya lebih dari 60 titik cabang Toserba Pesantren Sunan Drajat, ini bukti bahwa pesantren tidak hanya tempat ibadah, tapi juga pusat pemberdayaan ekonomi umat.”
Lebih lanjut, Gus Anas menyampaikan bahwa dakwah santri Sunan Drajat tidak terbatas di Indonesia saja, tapi menjangkau dunia. “Kalian dididik untuk berdakwah global, membawa nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin ke seluruh penjuru dunia, dengan tetap menjaga identitas sebagai santri yang berakhlakul karimah.”
Sebagai bagian dari pendidikan karakter dan latihan kesabaran, Gus Anas juga mengingatkan tentang kebijakan tidak sambang selama 40 hari pertama bagi santri baru. Ia mengaitkan kebijakan ini dengan kisah spiritual Nabi Musa a.s. “Kenapa 40 hari? Karena Nabi Musa pun sebelum menerima wahyu Taurat harus bertirakat—puasa 30 hari, kemudian disempurnakan 10 hari. Jadi kalau kalian ingin jadi orang besar, kalian harus bisa bersabar dan bertirakat dalam pendidikan ini.”
Dengan penuh keyakinan, Gus Anas menutup sambutannya dengan harapan agar para santri mampu menjadikan masa mondok ini sebagai momentum pembentukan jati diri, bukan sekadar belajar, tapi juga menanamkan nilai kehidupan, tanggung jawab, dan cita-cita tinggi untuk agama, bangsa, dan dunia.
(Najih)




