Beranda Artikel Makna Pesan Gus Obby: Santri Serba Bisa, Serba Biasa di Era Modern

Makna Pesan Gus Obby: Santri Serba Bisa, Serba Biasa di Era Modern

451
0
Gus Oby

Dalam sebuah pengajian Kitab Kuning di Pondok Pesantren Sunan Drajat, H. Murobbi Binnur, S.H. (Gus Obby) Ketua Yayasan Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan, menyampaikan nasihat yang sederhana tetapi sarat makna. Dalam video pengajian yang diunggah di salah satu media sosial PP Sunan Drajat [Lihat Video], Beliau mengatakan bahwa “Santri di apak-apakno iku ngerti sekabehane meskipun hanya sekedar bisa dan bukan ahli, tapi sudah menjadi ideologi (keyakinan) di masyarakat. Tuntutane jaman saiki ‘serba bisa, dan serba biasa’. Ojo sampek kita iki dadi wong seng gaptek, ojo sampek kita iki dadi wong seng ketinggalan zaman.”

Kalimat ini, bila kita renungkan lebih dalam, mengandung empat pelajaran penting yang relevan bagi kehidupan santri di masa kini.

1. Santri Harus Punya Wawasan Luas
Pesan beliau dimulai dengan pengakuan bahwa santri di pesantren memang dibentuk untuk mengerti banyak hal, walaupun tidak selalu menjadi ahli di setiap bidang. Filosofi ini selaras dengan tradisi pesantren yang sejak dahulu membekali santri dengan beragam keterampilan, mulai dari ilmu agama, seni baca Al-Qur’an, pidato, hingga keterampilan praktis seperti pertanian, perikanan, atau teknologi sederhana.

Di era modern, wawasan luas ini menjadi bekal untuk bisa beradaptasi dengan cepat di berbagai situasi. Santri yang mengerti banyak hal dapat lebih mudah berinteraksi dengan masyarakat yang beragam latar belakangnya. Meski tidak harus menjadi expert di semua bidang, setidaknya santri tidak bingung atau buta informasi ketika menghadapi persoalan di luar bidang agamanya.

2. Menghargai Tradisi, Menyesuaikan Diri dengan Zaman
Ketika Gus Obby menyebut bahwa hal ini sudah menjadi ideologi di masyarakat, beliau mengingatkan bahwa pembentukan santri serba bisa bukanlah hal baru. Sejak ratusan tahun lalu, pesantren telah melahirkan tokoh-tokoh yang tidak hanya mahir dalam ilmu agama, tetapi juga piawai dalam diplomasi, kepemimpinan, dan pengelolaan kehidupan sosial.

Namun, dalam konteks sekarang, santri perlu menambahkan satu lapisan baru dalam kemampuannya: kecakapan mengikuti perkembangan zaman. Menjadi serba bisa saja tidak cukup. Santri juga harus serba biasa, maksudnya; tetap rendah hati, membumi, dan tidak merasa lebih tinggi dari orang lain meskipun memiliki banyak kemampuan. Keahlian tanpa kerendahan hati hanya akan melahirkan kesombongan, sedangkan kemampuan yang dibarengi akhlak akan membawa keberkahan.

3. Melek Teknologi dan Tidak Tertinggal Informasi
Kalimat “ojo sampek kita iki dadi wong seng gaptek” adalah peringatan yang sangat relevan. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi, menjadi gaptek (gagap teknologi) bukan hanya menghambat diri sendiri, tetapi juga bisa membuat dakwah dan pengabdian santri menjadi kurang efektif.

Melek teknologi di sini bukan berarti harus menguasai semua perangkat canggih atau menjadi ahli IT. Yang terpenting adalah mampu menggunakan teknologi secara tepat guna. Santri bisa memanfaatkan media sosial untuk dakwah, mempelajari keterampilan digital untuk usaha, atau mengakses informasi global untuk menambah wawasan. Teknologi adalah alat dan alat ini akan membawa manfaat besar jika digunakan dengan niat yang benar.

4. Menyeimbangkan Ilmu Agama dan Keterampilan Dunia
Tuntutan zaman sekarang menegaskan bahwa santri harus memiliki keseimbangan antara ilmu agama yang mendalam dan keterampilan dunia yang relevan. Ilmu agama menjadi pondasi akhlak, prinsip hidup, dan panduan dalam mengambil keputusan. Sementara keterampilan dunia menjadi bekal untuk berkontribusi secara nyata di tengah masyarakat.

Santri yang bisa memadukan keduanya akan menjadi pribadi yang visioner sekaligus misioner: memiliki pandangan jauh ke depan, tetapi tetap membawa misi kebaikan bagi umat. Mereka mampu menjadi guru, pemimpin, pebisnis, inovator, atau bahkan pegiat sosial semua itu dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai agama.

Pesan Gus Obby sejatinya adalah ajakan untuk tidak pasif menghadapi perkembangan zaman. Santri tidak cukup hanya mempelajari kitab-kitab kuning di dalam pesantren, tetapi juga harus siap terjun ke masyarakat dengan bekal keterampilan yang beragam. Menjadi serba bisa agar bermanfaat di banyak bidang, dan serba biasa agar tetap rendah hati dalam mengabdi.

Dengan semangat ini, santri akan mampu menjaga tradisi pesantren, memanfaatkan teknologi, dan berkontribusi aktif di tengah perubahan dunia tanpa kehilangan jati diri sebagai pewaris ilmu para ulama.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini