Beranda Berita PK IPNU-IPPNU MA Ma’arif 7 Siap Cetak Kader Berkelas Nasional

PK IPNU-IPPNU MA Ma’arif 7 Siap Cetak Kader Berkelas Nasional

30
0

LAMONGAN — Ratusan pasang mata dari sekitar 900 siswa-siswi MA Ma’arif 7 Sunan Drajat menyaksikan momen sarat makna, Selasa (11/8/2026). Bukan sekadar seremoni pergantian pengurus, pelantikan Pimpinan Komisariat (PK) IPNU dan IPPNU masa khidmat 2026–2027 ini menjelma menjadi panggung konsolidasi kader sekaligus deklarasi komitmen: organisasi pelajar NU di Sunan Drajat harus melahirkan pemimpin yang berani melangkah hingga level nasional.

Estafet kepemimpinan pun resmi berpindah tangan. Rekan Bimo Cahya Saputra kini mengambil alih tongkat komando PK IPNU dari pendahulunya, Ahmad Miftahul Haq. Di sisi PK IPPNU, Rekanita Nabila Nuril Salsabilah melanjutkan perjuangan Vania Kholifatul Afifah sebagai nakhoda baru organisasi pelajar putri tersebut.

Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh penting: Ketua Tanfidziyah Gus Syahrul Munir (Gus Syahru), Ketua Pimpinan Cabang IPNU Rekan Affan Burhanuddin, hingga Ketua PAC Rekan Ahmad Lubab Ja’faruddin yang secara resmi mengukuhkan kepengurusan baru.

“Jangan Berorganisasi untuk Diri Sendiri”

Pesan tegas datang dari Ketua PC IPNU, Rekan Affan Burhanuddin. Ia mengingatkan bahwa organisasi bukanlah panggung untuk mencari eksistensi atau jabatan semata, melainkan ruang pengabdian sejati.

“Jadilah pengurus yang mampu mementingkan kepentingan umat untuk kemaslahatan. Manfaatkan organisasi ini untuk mengabdi sepenuh hati dan terus berproses sampai ke kepengurusan pusat,” tegasnya di hadapan para kader baru.

Baginya, kaderisasi di tingkat komisariat adalah pintu gerbang pertama — tempat benih-benih pemimpin masa depan NU mulai ditanam. Karena itu, pengurus baru dituntut lebih dari sekadar menjalankan program kerja: mereka harus membangun kapasitas diri, memperluas jaringan, dan memiliki visi perjuangan jangka panjang.

Organisasi, Laboratorium Kepemimpinan Sejati

Gus Syahrul Munir menegaskan hal senada dengan bahasa yang lebih filosofis. Menurutnya, organisasi adalah laboratorium kepemimpinan tempat pelajar ditempa menjadi pribadi yang bertanggung jawab, cakap berkomunikasi, dan peka terhadap dinamika sosial masyarakat.

“Organisasi dan kaderisasi harus menjadi jalan untuk mengembangkan jaringan sampai tingkat nasional,” pesannya, membakar semangat kader muda yang hadir.

Ia berharap para kader IPNU-IPPNU Sunan Drajat tidak berpuas diri hanya berkiprah di lingkup madrasah atau daerah, tetapi berani memperluas sayap hingga kancah nasional.

Jejak Sunan Drajat yang Mulai Menasional

Yang membuat pidato Gus Syahru semakin bertenaga adalah bukti nyata yang ia sampaikan. Ia menyebut nama Gus Gudfan Arif — putra KH Abdul Ghofur sekaligus dzuriyah Sunan Drajat — yang kini digadang-gadang sebagai salah satu kandidat kuat Ketua Umum PBNU.

“Ini merupakan langkah konkret bahwa Sunan Drajat sudah menasional, sebagaimana visi dan misi yayasan,” ujarnya penuh keyakinan.

Bagi Gus Syahru, pencapaian ini bukan sekadar kebanggaan, melainkan bukti hidup bahwa proses kaderisasi dan pengembangan jaringan dari Sunan Drajat memiliki peluang besar untuk terus diperluas — dan itu menjadi tantangan sekaligus motivasi bagi pengurus baru agar tidak berhenti hanya sebagai pengurus komisariat.

Menyongsong Babak Baru Kaderisasi

Dengan kepemimpinan baru di tangan Bimo Cahya Saputra dan Nabila Nuril Salsabilah, harapan besar pun disematkan: menjaga keberlanjutan program, memperkuat kaderisasi, dan menghadirkan kegiatan yang berdampak nyata bagi siswa, madrasah, pesantren, hingga masyarakat luas.

Di hadapan ratusan pelajar yang hadir, satu pesan besar kembali digemakan: organisasi bukan soal siapa yang duduk sebagai ketua, melainkan soal siapa yang siap melanjutkan perjuangan dan memberi manfaat.

Dari komisariat, kader ditempa. Dari Sunan Drajat, jaringan diperluas. Dan dari sinilah, babak baru generasi penerus perjuangan NU tingkat nasional mulai ditulis.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini